Sunday, February 18, 2007

Obrolan seorang ibu dengan anaknya..

Anak (A): "Mah…, kok ayah perginya lama?"
Ibu (I) : "Iya, ayah lagi kerja, di laut….. …."
A: "Lautnya jauh mah?"
I: "Iya jauh…"
A: "Lautnya dipindah aja ke deket rumah kita, supaya ayah perginya nggak lama….. "

A: "Mah…., kenapa ayah mesti ke laut?"
I: "Ayah harus cari uang nak….. untuk biaya kakak sekolah…".
A: "Kalau perlu uang, kita ngambil aja di ATM, nggak perlu ayah ambil di laut…."

Wednesday, February 7, 2007

Belajar menjadi Seorang Ayah……(2)

Komitmen
Saya baru saja berkomitmen untuk belajar menjadi seorang ayah yang baik dan benar. Belajar, berarti menjadi seorang murid, sekolah lagi. Tetapi kali ini berbeda dengan untaian sekolah yang dijalani dahulu. Belajar yang sekarang akan dijalani tidak akan pernah tamat (dan seharusnya dimulai sejak lama), cuma liang lahat yang akan menghentikan proses ini. Selain itu, sekarang saya harus benar-benar mandiri dan proaktif; tidak memiliki kelas, dan berharap mendapat tutor yang perfect. Tetapi siapa tutor atau guru tersebut? Sampai saat ini saya tidak tahu, tetapi ke depan saya yakin akan banyak guru dan pembimbing sejalan dengan perkembangan kemajuan studi saya ini.
Tapi ada satu hal yang paling menakutkan dari sekolah ini, yaitu subjeknya adalah kehidupan anak-anak saya dan yang menjadi bahan percobaan adalah kondisi psikologis mereka. Metodanya try and error. (ke depan akan dicoba di-minimalisir metoda ini)

Buka-buka
link di internet, mendapatkan masukan dari kompas, dan mendapatkan teori-teori yang lumayan bagus, mungkin bisa juga diterapkan nanti kalau sudah di rumah. “Dicoba untuk diterapkan” adalah kata yang lebih tepat.

Sebetulnya ada dua sudut pandang di masyarakat dalam membesarkan anak; yaitu berdasarkan sudut pandang Psikologi Perkembangan Anak, dan tidak ada teori sama-sekali. Yang pertama mengikuti text book kuliah-kuliah Psikologi, pegangan para psikolog selama mereka kuliah.
Yang kedua tidak mengikuti textbook, hanya bersandar pada situasi yang ada pada saat itu, mengikuti anjuran orang tua dahulu, dan lebih condong kepada tuntunan agama dalam membesarkan anak. Kedua metoda ini bukan untuk dipertentangkan, karena masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihannya sendiri.
Belum saya pikirkan apakah akan mengikuti anjuran para psikolog atau mengikuti insting sebagai orangtua saja. Yang pasti ini adalah proyek yang besar dan berdampak luas pada perkembangan kehidupan anak-anak saya di masa depan.

Kerangka Pemikiran
Saya coba rumuskan dahulu kerangka dari semua ini (brain storming heula). Kerangka pemikiran dari proses pembelajaran ini adalah:
1. Agar anak-anak tumbuh dengan optimal; fisik, mental, emosional, psikologis, semuanya berkembang dengan baik sesuai dengan pertumbuhan usianya dari hari ke hari;
2. Fokus dari semua ini adalah mereka, bukan saya, bukan pendapat dari orang lain, bukan kejadian di masa lalu, atau pendapat di masyarakat luas yang belum tentu benar.
3. Tidak ada anak yang dilahirkan dengan kemampuan mengendalikan diri dengan baik; Semua itu harus dicapai dengan proses latihan dan pembelajaran dengan benar. Jadi jangan ada keinginan agar anak berbuat sesuatu yang ‘benar’ at the first time. Mungkin boleh ‘salah’ dulu, baru dikoreksi, diberi tahu mana yang benar dan mana yang salah; disini proses yang paling penting.
4. Anak adalah titipan Ilahi. Masa kanak-anak adalah early life time bagi setiap manusia. Duapuluh tahun yang akan datang mereka akan menjadi manusia dewasa. Segala hal yang didapatkannya semasa balita akan menjadi landasan yang kuat bagi perkembangannya di masa yang akan datang. “Golden age” ini harus benar-benar dioptimalkan perkembangannya tetapi jangan sampai overload.

.............(bersambung)............

Tuesday, February 6, 2007

Belajar menjadi Seorang Ayah……(1)

Prolog
“Menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya” begitu kata-kata yang terlontar dari mulut istri saya di awal-awal kami memiliki anak pertama.

Masih kuat di dalam ingatan ketika Fatih pulang dari rumah bersalin. Begitu sampai di rumah segalanya dimulai; gantian begadang, mengganti popok, memandikannya, ingin selalu menggendongnya, tidak tahan denger tangisan, dan lain sebagainya. Singkat kata, hari pertama memiliki bayi di rumah sungguh diluar dugaan. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kami akan 'nervous' dalam menyambut si buah hati di rumah.

Ada waktu ketika Fatih menangis, dan kami berdua nge-hang...tidak berdaya menghadapi tangisan bayi. Sampai akhirnya istri nangis juga, dan saya cuma bisa melongo ….......bingung.........dan tidak tahu harus berbuat apa… ...
(padahal Fatih cuma lapar, dan ingin ASI……)

Walaupun kami memiliki keponakan, dan cukup dekat dengan keponakan sebelum mempunyai anak, tetap saja; mengurus anak sendiri, berbeda dengan mengurus anak orang lain. Menjadi orangtua harus siap 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tidak ada liburnya, dan ini adalah kekagetan pertama saya.

Karena masih tidak percaya diri juga, kami mencoba meng-hire seorang suster dari rumah sakit, tapi entah kenapa hal ini tidak berlangsung lama dan berganti beberapa kali karena tidak cocok. Sampai akhirnya ada seorang baby sitter yang cukup lama menemani istri merawat Fatih karena pada saat itu saya harus berangkat ke lapangan.

Dan begitulah......
Waktu terus berjalan………dan kami mulai dapat membiasakan diri menjadi new parents.

Ketika Fatih mulai menginjak usia 3 tahun dan memiliki seorang adik; masalah lain muncul. Perilaku yang sedikit agresive mulai ditunjukan oleh anakku yang satu ini. Sebetulnya, untuk ukuran anak yang berumur 3 tahun, Fatih termasuk anak yang perilakunya ‘sweet’ cuma terkadang saja timbul impulse-impulse dari dalam dirinya yang berbenturan dengan lingkungannya. Saya pikir masalah timbul bukan karena perilakunya itu, tetapi lebih disebabkan karena ketidaksiapan kami sebagai orangtua dalam mengantisipasi hal tersebut.
Aktif, lincah, tapi memiliki bawaan asma, membuat Fatih memerlukan perhatian yang lebih.

Mungkin agak berat bagi istriku di rumah, ketika harus membagi kasih sayang antara yang besar dengan yang kecil, sementara keduanya membutuhkan perhatian yang sama-sama besar. Untuk seorang ayah yang normal (yang berada di rumah setiap hari), hal ini tidak terlalu bermasalah karena dapat membantu istri mengurus anak-anak setiap harinya. Tetapi bagaimana dengan saya? Seorang ayah yang hanya berada di rumah selama 6 minggu, pergi meninggalkan rumah selama 6 minggu, setelah itu kembali ke lagi rumah; dan begitulah seterusnya……
Praktis selama 6 minggu ketika saya di lapangan, istri berperan ganda: menjadi seorang ibu, dan juga seorang ayah; dan ini berat, saya tahu itu. Tidak ada yang bisa mengurangi beban ini, walaupun ada seorang baby sitter yang membantu tugas kesehariannya dalam merawat anak-anak di rumah. Mungkin yang paling berat adalah menggantikan figur ayah selama saya di lapangan. Ini tantangan tersendiri bagi kami, walaupun saya tahu resikonya juga besar bagi perkembangan mereka.
Mudah-mudahan ke depan akan lebih banyak metoda dan cara yang lebih baik di dalam kami membesarkan anak dengan cara seperti ini.

Mungkin akan lebih baik jika saya punya pengetahuan yang luas tentang bagaimana membesarkan anak. Jauh di lubuk hati ini, tidak ingin ada waktu terbuang percuma dalam membesarkan anak. Ingin rasanya selalu berada di samping mereka setiap saat. Memberikan pendidikan, kasih sayang, dan bercanda bersama mereka setiap waktu.

Memantau kemajuan perkembangan anak bisa ditanyakan kepada istri lewat telpon, tetapi tetap saja, ada yang hilang dari pengamatan selama saya di lapangan; dan saya yakin ini memberikan efek yang besar dalam perkembangan mereka.

Banyak bertanya, banyak membaca, surfing di internet, mungkin bisa memberikan wawasan yang lebih luas tentang bagaimana membesarkan anak dari jarak jauh. Paling tidak, ketika waktunya bersama-sama tiba, tidak pernah ada lagi waktu yang dilewatkan dengan sia-sia.
Mungkin yang paling penting dijaga adalah kontinuitas dari dasar-dasar pendidikan moral yang selama ini dicoba ditanamkan ke anak-anak.

Dengan kondisi yang penuh keterbatasan ini, saya ingin menjadi ayah yang baik untuk anak-anak, saya akan berusaha untuk menuju ke arah sana….

So, God please help me……

(bersambung)…..