Tuesday, February 6, 2007

Belajar menjadi Seorang Ayah……(1)

Prolog
“Menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya” begitu kata-kata yang terlontar dari mulut istri saya di awal-awal kami memiliki anak pertama.

Masih kuat di dalam ingatan ketika Fatih pulang dari rumah bersalin. Begitu sampai di rumah segalanya dimulai; gantian begadang, mengganti popok, memandikannya, ingin selalu menggendongnya, tidak tahan denger tangisan, dan lain sebagainya. Singkat kata, hari pertama memiliki bayi di rumah sungguh diluar dugaan. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kami akan 'nervous' dalam menyambut si buah hati di rumah.

Ada waktu ketika Fatih menangis, dan kami berdua nge-hang...tidak berdaya menghadapi tangisan bayi. Sampai akhirnya istri nangis juga, dan saya cuma bisa melongo ….......bingung.........dan tidak tahu harus berbuat apa… ...
(padahal Fatih cuma lapar, dan ingin ASI……)

Walaupun kami memiliki keponakan, dan cukup dekat dengan keponakan sebelum mempunyai anak, tetap saja; mengurus anak sendiri, berbeda dengan mengurus anak orang lain. Menjadi orangtua harus siap 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tidak ada liburnya, dan ini adalah kekagetan pertama saya.

Karena masih tidak percaya diri juga, kami mencoba meng-hire seorang suster dari rumah sakit, tapi entah kenapa hal ini tidak berlangsung lama dan berganti beberapa kali karena tidak cocok. Sampai akhirnya ada seorang baby sitter yang cukup lama menemani istri merawat Fatih karena pada saat itu saya harus berangkat ke lapangan.

Dan begitulah......
Waktu terus berjalan………dan kami mulai dapat membiasakan diri menjadi new parents.

Ketika Fatih mulai menginjak usia 3 tahun dan memiliki seorang adik; masalah lain muncul. Perilaku yang sedikit agresive mulai ditunjukan oleh anakku yang satu ini. Sebetulnya, untuk ukuran anak yang berumur 3 tahun, Fatih termasuk anak yang perilakunya ‘sweet’ cuma terkadang saja timbul impulse-impulse dari dalam dirinya yang berbenturan dengan lingkungannya. Saya pikir masalah timbul bukan karena perilakunya itu, tetapi lebih disebabkan karena ketidaksiapan kami sebagai orangtua dalam mengantisipasi hal tersebut.
Aktif, lincah, tapi memiliki bawaan asma, membuat Fatih memerlukan perhatian yang lebih.

Mungkin agak berat bagi istriku di rumah, ketika harus membagi kasih sayang antara yang besar dengan yang kecil, sementara keduanya membutuhkan perhatian yang sama-sama besar. Untuk seorang ayah yang normal (yang berada di rumah setiap hari), hal ini tidak terlalu bermasalah karena dapat membantu istri mengurus anak-anak setiap harinya. Tetapi bagaimana dengan saya? Seorang ayah yang hanya berada di rumah selama 6 minggu, pergi meninggalkan rumah selama 6 minggu, setelah itu kembali ke lagi rumah; dan begitulah seterusnya……
Praktis selama 6 minggu ketika saya di lapangan, istri berperan ganda: menjadi seorang ibu, dan juga seorang ayah; dan ini berat, saya tahu itu. Tidak ada yang bisa mengurangi beban ini, walaupun ada seorang baby sitter yang membantu tugas kesehariannya dalam merawat anak-anak di rumah. Mungkin yang paling berat adalah menggantikan figur ayah selama saya di lapangan. Ini tantangan tersendiri bagi kami, walaupun saya tahu resikonya juga besar bagi perkembangan mereka.
Mudah-mudahan ke depan akan lebih banyak metoda dan cara yang lebih baik di dalam kami membesarkan anak dengan cara seperti ini.

Mungkin akan lebih baik jika saya punya pengetahuan yang luas tentang bagaimana membesarkan anak. Jauh di lubuk hati ini, tidak ingin ada waktu terbuang percuma dalam membesarkan anak. Ingin rasanya selalu berada di samping mereka setiap saat. Memberikan pendidikan, kasih sayang, dan bercanda bersama mereka setiap waktu.

Memantau kemajuan perkembangan anak bisa ditanyakan kepada istri lewat telpon, tetapi tetap saja, ada yang hilang dari pengamatan selama saya di lapangan; dan saya yakin ini memberikan efek yang besar dalam perkembangan mereka.

Banyak bertanya, banyak membaca, surfing di internet, mungkin bisa memberikan wawasan yang lebih luas tentang bagaimana membesarkan anak dari jarak jauh. Paling tidak, ketika waktunya bersama-sama tiba, tidak pernah ada lagi waktu yang dilewatkan dengan sia-sia.
Mungkin yang paling penting dijaga adalah kontinuitas dari dasar-dasar pendidikan moral yang selama ini dicoba ditanamkan ke anak-anak.

Dengan kondisi yang penuh keterbatasan ini, saya ingin menjadi ayah yang baik untuk anak-anak, saya akan berusaha untuk menuju ke arah sana….

So, God please help me……

(bersambung)…..

No comments: