Hati ayah hancur nak .....!
Penyesalan, cuma segudang penyesalan yang sekarang ada di hati ayah. (I wish I had done better thing… )
Ketika ayah putuskan untuk menyentrik telinga kakak, pada saat itu emosi ayah sudah memuncak karena kelakuan kakak. Pada saat itu ayah tidak mempunyai pikiran lain selain ingin menghentikan kebiasaan kakak itu. (maafkan ayah nak……)
Yang ayah pikirkan adalah ketakutan bahwa kebiasaan itu akan terus terbawa sampai kakak besar, dan ayah tidak mau itu terjadi….
Mungkin itu perasaan yang terlalu berlebihan, dan ayah tahu seharusnya ayah memberikan pendidikan dengan cara yang lebih baik dari itu.
Mungkin karena waktu dan jarak yang selalu memisahkan kita, kakak tidak terlalu dekat secara emosional dengan ayah. Walaupun ayah sangat sedih menyadari hal ini, ayah bisa terima karena ayah punya kewajiban untuk menjemput rezeki yang sudah Allah berikan untuk kita, dan untuk sekarang ini rejeki kita berada di suatu tempat yang jauh dari rumah, ayah harus songsong, ayah harus pergi dari rumah selama berminggu-minggu meninggalkan kalian di rumah hanya bersama mamah saja. Ayah harus bisa mengolah dan mengeringkannya untuk kita bisa nikmati bersama. Mungkin di masa depan ayah bisa berada di rumah untuk menjaga dan mendidik kalian dengan lebih baik lagi.
Jika kakak tidak setuju dengan tindakan ayah itu, dan bertanya-tanya mengapa ayah menyentrik telinga kakak, ayah bisa jelaskan kapanpun kakak mau denger ayah. Mungkin ayah cuma ingin memberi tahu kakak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mengungkapkan emosi, selain dengan memukul. Pada saat ini —yang ayah tahu— kalau kakak kecewa, kakak melampiaskannya dengan memukul. Seringkali ayah mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik dalam mengungkapkan kekecewaan. Kakang bisa ngomong, bisa mendiskusikannya dengan ayah atau mamah. Mungkin pelajaran ini terlalu dini buat kakak, tapi ayah ingin menanamkannya dari awal, sedini mungkin. Ayah tidak mau terlambat, ayah tidak mau kecewa di kemudian hari. Kekecewaan yang lebih besar, jauh lebih besar dibandingkan kekecewaan dan kesedihan ayah sekarang.
Ayah tidak tahu, dari mana kakak mendapatkan cara itu. Apakah di sekolah? Seperti yang kakak bilang, bahwa ada teman yang suka memukul kakak? (Mungkin ayah atau mamah akan bertanya sama ibu guru di sekolah). Mungkinkah temen kakak itu sering memukuli kakak sehingga kakak mau bawa besi ke sekolah buat membalas pukulan teman kakak itu?
Atau mungkin ini genetik? Karena secara garis keturunan kita dilahirkan di keluarga yang keras? Ayah sudah tidak ingat lagi, apa kelakuan ayah sewaktu kecil –seumur kakak sekarang— tapi yang ayah masih ingat, kakek sangat keras sekali mendidik ayah. Mungkin terlalu keras, sehingga masuk ke dalam pikiran bawah sadar ayah bahwa pendidikan seperti itulah yang benar dalam keluarga.
Dahulu nenek pernah bilang bahwa kakek pun dididik dengan keras oleh orangtuanya. Selain itu, kehidupan yang lebih berat, pernah dialami oleh kakek. Beliau tidak pernah istirahat dalam hidupnya, selalu bekerja, bekerja, dan bekerja. Bahkan sampai sekarang, sesudah pensiun, belau masih tetap saja menerima pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Apakah kakek tidak pernah lelah? Ayah juga tidak tahu. Tetapi seingat ayah, dulu kakek pernah terbaring lama di rumah sakit selama sebulan atau lebih karena sakit kuning. Belakangan ayah tahu bahwa itu adalah sakit liver, dan ayah tahu bahwa penyakit itu dipicu oleh kerja yang terlalu berat. Waktu istirahat kakek cuma Hari Raya Idul adha dan Hari raya Idul Fitri.
Jauh sebelum orang menggembar-gemborkan istilah 24/7, ayah pikir (sejauh ingatan ayah), kakek sudah bekerja 7 hari seminggu, dan siap menerima panggilan tugas 24 jam sehari. Sungguh suatu karunia yang sangat besar dari Allah bahwa kakek masih hidup sampai sekarang ini.
Apakah ayah harus mengatakan: “kehidupan begitu keras, sehingga terpaksa ayah harus berlaku keras terhadap kalian agar kalian dapat survive di masa depan?” Ayah tidak tahu nak….
Mungkin ayah kurang pengetahuan dalam mendidik anak. Yang ayah tahu adalah pendidikan yang ayah terima sewaktu ayah kecil. Bagaimana ayah dahulu dididik oleh orangtua ayah.
Mungkin mamah kalian punya teori yang lebih baik, tapi ayah belum melihat hasil yang signifikan dari teori itu. Sementara waktu kakak bersama dengan mamah jauh lebih banyak dibandingkan dengan waktu kakak bersama ayah. Pendidikan untuk kalian, ayah serahin sama mamah ketika ayah di laut.
Setiap ayah pulang kerja –walaupun kalian ‘cuma’ ayah tinggalin selama 6 minggu— ayah selalu melihat perubahan besar pada diri kalian. Secara fisik, kakak dan ade jauh lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan dengan vision ayah sebelum berangkat kerja. Walaupun mamah sering kirim foto kalian pada saat ayah sudah berada 3 atau 4 minggu di lapangan, tetap saja ayah merasakan perbedaan itu. Ayah yakin, secara mental dan emosional pun kakak dan ade tumbuh dengan pesat didalam, dan ini adalah hal yang terlewatkan oleh ayah selama 6 minggu. Ayah sungguh sangat sedih menyadari hal ini.
Ayah sedih telah menghukum kakak begitu keras. Sewaktu kita bicara berdua di kamar, dan kakak mengatakan tidak bisa ngomong karena kepalanya sakit, ayah sangat sedih nak.
Sedih karena kakak harus mengatakan itu. Ayah biarkan kakak menangis dan terbaring di tempat tidur. Kakak tidak mau menatap ayah, kakak membelakangi ayah, kakak menghalangi mata kakak dengan tangan. Entah itu untuk menyeka air mata, atau karena kakak takut melihat ayah. Ayah tidak tahu.
Ayah tidak ingat lagi apa yang ayah katakana pada saat itu kepada kakak. Tapi intinya adalah, bahwa ayah ingin mendidik kakak untuk bisa mengungkapkan emosi dengan cara yang benar. Mengungkapkan kekecewaan, mengungkapkan keinginan, mengungkapkan kesedihan, mengungkapkan kemarahan, dan mengungkapkan kecemburuan kakak terhadap ade dengan cara-cara yang tidak menyakiti. Mungkin kakak tidak tahu, atau belum tahu, tapi mari kita sama-sama cari tahu. (Is it true? Deep inside, ayah juga tidak tahu apakah ayah sudah bisa mengungkapkan emosi dengan benar atau tidak).
Ayah ingin agar kakak bisa mendengarkan semua nasihat ayah dan mamah untuk kebaikan kakak sendiri. Ayah tidak akan melarang sesuatu hal yang kakak ingin kerjain, kecuali hal itu akan membahayakan diri kakak. Ayah sekuat tenaga ingin mengabulkan dan meng-akomodir semua keinginan kakak, ade, dan mamah. Tapi terkadang ayah juga tidak menyadari apa yang kakak inginkan. Terkadang ayah merespon keingina tersebut dengan jalan yang salah. Ayah perlu belajar lebih giat lagi untuk menjadi seorang bapak yang baik.
Above all, dan ini yang paling ayah takutkan selama ini; ayah sudah berubah menjadi monster yang sangat menakutkan untuk kalian, bahkan untuk mamah.
Kalau sudah begini, semua yang ayah kerjakan selama ini, semua kerja keras ayah, semua perjuangan ayah, rasanya hampa dan sia-sia belaka. (Percuma, seperti yang dikatakan kakek pada ayah ketika kakek tahu ayah nggak bener sholatnya karena jadwal kerja yang sangat ketat)……….
Hati ayah hancur berkeping-keping, serasa ada yang kosong dalam diri ini.
Gelap, dingin, dan pengap…….
I’m sorry son, I’m really, really sorry……………………………..
Broome, Australia 25 January 2007. First day onboard MV. Pacific Sword
Ketika ayah putuskan untuk menyentrik telinga kakak, pada saat itu emosi ayah sudah memuncak karena kelakuan kakak. Pada saat itu ayah tidak mempunyai pikiran lain selain ingin menghentikan kebiasaan kakak itu. (maafkan ayah nak……)
Yang ayah pikirkan adalah ketakutan bahwa kebiasaan itu akan terus terbawa sampai kakak besar, dan ayah tidak mau itu terjadi….
Mungkin itu perasaan yang terlalu berlebihan, dan ayah tahu seharusnya ayah memberikan pendidikan dengan cara yang lebih baik dari itu.
Mungkin karena waktu dan jarak yang selalu memisahkan kita, kakak tidak terlalu dekat secara emosional dengan ayah. Walaupun ayah sangat sedih menyadari hal ini, ayah bisa terima karena ayah punya kewajiban untuk menjemput rezeki yang sudah Allah berikan untuk kita, dan untuk sekarang ini rejeki kita berada di suatu tempat yang jauh dari rumah, ayah harus songsong, ayah harus pergi dari rumah selama berminggu-minggu meninggalkan kalian di rumah hanya bersama mamah saja. Ayah harus bisa mengolah dan mengeringkannya untuk kita bisa nikmati bersama. Mungkin di masa depan ayah bisa berada di rumah untuk menjaga dan mendidik kalian dengan lebih baik lagi.
Jika kakak tidak setuju dengan tindakan ayah itu, dan bertanya-tanya mengapa ayah menyentrik telinga kakak, ayah bisa jelaskan kapanpun kakak mau denger ayah. Mungkin ayah cuma ingin memberi tahu kakak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mengungkapkan emosi, selain dengan memukul. Pada saat ini —yang ayah tahu— kalau kakak kecewa, kakak melampiaskannya dengan memukul. Seringkali ayah mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik dalam mengungkapkan kekecewaan. Kakang bisa ngomong, bisa mendiskusikannya dengan ayah atau mamah. Mungkin pelajaran ini terlalu dini buat kakak, tapi ayah ingin menanamkannya dari awal, sedini mungkin. Ayah tidak mau terlambat, ayah tidak mau kecewa di kemudian hari. Kekecewaan yang lebih besar, jauh lebih besar dibandingkan kekecewaan dan kesedihan ayah sekarang.
Ayah tidak tahu, dari mana kakak mendapatkan cara itu. Apakah di sekolah? Seperti yang kakak bilang, bahwa ada teman yang suka memukul kakak? (Mungkin ayah atau mamah akan bertanya sama ibu guru di sekolah). Mungkinkah temen kakak itu sering memukuli kakak sehingga kakak mau bawa besi ke sekolah buat membalas pukulan teman kakak itu?
Atau mungkin ini genetik? Karena secara garis keturunan kita dilahirkan di keluarga yang keras? Ayah sudah tidak ingat lagi, apa kelakuan ayah sewaktu kecil –seumur kakak sekarang— tapi yang ayah masih ingat, kakek sangat keras sekali mendidik ayah. Mungkin terlalu keras, sehingga masuk ke dalam pikiran bawah sadar ayah bahwa pendidikan seperti itulah yang benar dalam keluarga.
Dahulu nenek pernah bilang bahwa kakek pun dididik dengan keras oleh orangtuanya. Selain itu, kehidupan yang lebih berat, pernah dialami oleh kakek. Beliau tidak pernah istirahat dalam hidupnya, selalu bekerja, bekerja, dan bekerja. Bahkan sampai sekarang, sesudah pensiun, belau masih tetap saja menerima pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Apakah kakek tidak pernah lelah? Ayah juga tidak tahu. Tetapi seingat ayah, dulu kakek pernah terbaring lama di rumah sakit selama sebulan atau lebih karena sakit kuning. Belakangan ayah tahu bahwa itu adalah sakit liver, dan ayah tahu bahwa penyakit itu dipicu oleh kerja yang terlalu berat. Waktu istirahat kakek cuma Hari Raya Idul adha dan Hari raya Idul Fitri.
Jauh sebelum orang menggembar-gemborkan istilah 24/7, ayah pikir (sejauh ingatan ayah), kakek sudah bekerja 7 hari seminggu, dan siap menerima panggilan tugas 24 jam sehari. Sungguh suatu karunia yang sangat besar dari Allah bahwa kakek masih hidup sampai sekarang ini.
Apakah ayah harus mengatakan: “kehidupan begitu keras, sehingga terpaksa ayah harus berlaku keras terhadap kalian agar kalian dapat survive di masa depan?” Ayah tidak tahu nak….
Mungkin ayah kurang pengetahuan dalam mendidik anak. Yang ayah tahu adalah pendidikan yang ayah terima sewaktu ayah kecil. Bagaimana ayah dahulu dididik oleh orangtua ayah.
Mungkin mamah kalian punya teori yang lebih baik, tapi ayah belum melihat hasil yang signifikan dari teori itu. Sementara waktu kakak bersama dengan mamah jauh lebih banyak dibandingkan dengan waktu kakak bersama ayah. Pendidikan untuk kalian, ayah serahin sama mamah ketika ayah di laut.
Setiap ayah pulang kerja –walaupun kalian ‘cuma’ ayah tinggalin selama 6 minggu— ayah selalu melihat perubahan besar pada diri kalian. Secara fisik, kakak dan ade jauh lebih tinggi dan lebih besar dibandingkan dengan vision ayah sebelum berangkat kerja. Walaupun mamah sering kirim foto kalian pada saat ayah sudah berada 3 atau 4 minggu di lapangan, tetap saja ayah merasakan perbedaan itu. Ayah yakin, secara mental dan emosional pun kakak dan ade tumbuh dengan pesat didalam, dan ini adalah hal yang terlewatkan oleh ayah selama 6 minggu. Ayah sungguh sangat sedih menyadari hal ini.
Ayah sedih telah menghukum kakak begitu keras. Sewaktu kita bicara berdua di kamar, dan kakak mengatakan tidak bisa ngomong karena kepalanya sakit, ayah sangat sedih nak.
Sedih karena kakak harus mengatakan itu. Ayah biarkan kakak menangis dan terbaring di tempat tidur. Kakak tidak mau menatap ayah, kakak membelakangi ayah, kakak menghalangi mata kakak dengan tangan. Entah itu untuk menyeka air mata, atau karena kakak takut melihat ayah. Ayah tidak tahu.
Ayah tidak ingat lagi apa yang ayah katakana pada saat itu kepada kakak. Tapi intinya adalah, bahwa ayah ingin mendidik kakak untuk bisa mengungkapkan emosi dengan cara yang benar. Mengungkapkan kekecewaan, mengungkapkan keinginan, mengungkapkan kesedihan, mengungkapkan kemarahan, dan mengungkapkan kecemburuan kakak terhadap ade dengan cara-cara yang tidak menyakiti. Mungkin kakak tidak tahu, atau belum tahu, tapi mari kita sama-sama cari tahu. (Is it true? Deep inside, ayah juga tidak tahu apakah ayah sudah bisa mengungkapkan emosi dengan benar atau tidak).
Ayah ingin agar kakak bisa mendengarkan semua nasihat ayah dan mamah untuk kebaikan kakak sendiri. Ayah tidak akan melarang sesuatu hal yang kakak ingin kerjain, kecuali hal itu akan membahayakan diri kakak. Ayah sekuat tenaga ingin mengabulkan dan meng-akomodir semua keinginan kakak, ade, dan mamah. Tapi terkadang ayah juga tidak menyadari apa yang kakak inginkan. Terkadang ayah merespon keingina tersebut dengan jalan yang salah. Ayah perlu belajar lebih giat lagi untuk menjadi seorang bapak yang baik.
Above all, dan ini yang paling ayah takutkan selama ini; ayah sudah berubah menjadi monster yang sangat menakutkan untuk kalian, bahkan untuk mamah.
Kalau sudah begini, semua yang ayah kerjakan selama ini, semua kerja keras ayah, semua perjuangan ayah, rasanya hampa dan sia-sia belaka. (Percuma, seperti yang dikatakan kakek pada ayah ketika kakek tahu ayah nggak bener sholatnya karena jadwal kerja yang sangat ketat)……….
Hati ayah hancur berkeping-keping, serasa ada yang kosong dalam diri ini.
Gelap, dingin, dan pengap…….
I’m sorry son, I’m really, really sorry……………………………..
Broome, Australia 25 January 2007. First day onboard MV. Pacific Sword
3 comments:
kalem din, jadi ortu memang beurat, tp kalo itu harus dilakukan, harus ikhlas, bukan dari amarah yg diturut tp dari seorang ayah yg sayang sama anaknya.
dequr said....
Benar kata ugun Din... yang paling penting niat kita bukan untuk menyakiti. Kalau memang niat maneh menyakiti, ku urang di sintreuk maneh.
"..orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan amarahnya...."
anak kecil sangat peka dengan merekam apa yang dia saksikan, dia dengarkan. Sebisa mungkin jangan menggunakan kekerasan pada anak kita...sekesal apapun kita...kalo anak suka memukul...mungkin dia di sekolah melihat atau malah jadi korban, atau ketika dia nonton TV, dsb...
Post a Comment