Komitmen
Saya baru saja berkomitmen untuk belajar menjadi seorang ayah yang baik dan benar. Belajar, berarti menjadi seorang murid, sekolah lagi. Tetapi kali ini berbeda dengan untaian sekolah yang dijalani dahulu. Belajar yang sekarang akan dijalani tidak akan pernah tamat (dan seharusnya dimulai sejak lama), cuma liang lahat yang akan menghentikan proses ini. Selain itu, sekarang saya harus benar-benar mandiri dan proaktif; tidak memiliki kelas, dan berharap mendapat tutor yang perfect. Tetapi siapa tutor atau guru tersebut? Sampai saat ini saya tidak tahu, tetapi ke depan saya yakin akan banyak guru dan pembimbing sejalan dengan perkembangan kemajuan studi saya ini.
Tapi ada satu hal yang paling menakutkan dari sekolah ini, yaitu subjeknya adalah kehidupan anak-anak saya dan yang menjadi bahan percobaan adalah kondisi psikologis mereka. Metodanya try and error. (ke depan akan dicoba di-minimalisir metoda ini)
Buka-buka link di internet, mendapatkan masukan dari kompas, dan mendapatkan teori-teori yang lumayan bagus, mungkin bisa juga diterapkan nanti kalau sudah di rumah. “Dicoba untuk diterapkan” adalah kata yang lebih tepat.
Sebetulnya ada dua sudut pandang di masyarakat dalam membesarkan anak; yaitu berdasarkan sudut pandang Psikologi Perkembangan Anak, dan tidak ada teori sama-sekali. Yang pertama mengikuti text book kuliah-kuliah Psikologi, pegangan para psikolog selama mereka kuliah.
Yang kedua tidak mengikuti textbook, hanya bersandar pada situasi yang ada pada saat itu, mengikuti anjuran orang tua dahulu, dan lebih condong kepada tuntunan agama dalam membesarkan anak. Kedua metoda ini bukan untuk dipertentangkan, karena masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihannya sendiri.
Belum saya pikirkan apakah akan mengikuti anjuran para psikolog atau mengikuti insting sebagai orangtua saja. Yang pasti ini adalah proyek yang besar dan berdampak luas pada perkembangan kehidupan anak-anak saya di masa depan.
Kerangka Pemikiran
Saya coba rumuskan dahulu kerangka dari semua ini (brain storming heula). Kerangka pemikiran dari proses pembelajaran ini adalah:
1. Agar anak-anak tumbuh dengan optimal; fisik, mental, emosional, psikologis, semuanya berkembang dengan baik sesuai dengan pertumbuhan usianya dari hari ke hari;
2. Fokus dari semua ini adalah mereka, bukan saya, bukan pendapat dari orang lain, bukan kejadian di masa lalu, atau pendapat di masyarakat luas yang belum tentu benar.
3. Tidak ada anak yang dilahirkan dengan kemampuan mengendalikan diri dengan baik; Semua itu harus dicapai dengan proses latihan dan pembelajaran dengan benar. Jadi jangan ada keinginan agar anak berbuat sesuatu yang ‘benar’ at the first time. Mungkin boleh ‘salah’ dulu, baru dikoreksi, diberi tahu mana yang benar dan mana yang salah; disini proses yang paling penting.
4. Anak adalah titipan Ilahi. Masa kanak-anak adalah early life time bagi setiap manusia. Duapuluh tahun yang akan datang mereka akan menjadi manusia dewasa. Segala hal yang didapatkannya semasa balita akan menjadi landasan yang kuat bagi perkembangannya di masa yang akan datang. “Golden age” ini harus benar-benar dioptimalkan perkembangannya tetapi jangan sampai overload.
.............(bersambung)............