Monday, April 16, 2007

Anaconda

Fatih, anak saya yang pertama; senang sekali jika dibacakan buku tentang kehidupan binatang.
Beberapa hari yang lalu, kami membelikannya sebuah buku tentang reptilia. Di malam harinya, dia meminta saya untuk membacakan buku tersebut. Mulailah saya membaca dari halaman yang paling depan. Buku ini menerangkan tentang kehidupan reptil yang ada di muka bumi, mulai dari buaya, ular, biyawak, komodo dan lain-lain.
Ketika sampai di segmen cerita yang membahas tentang jenis-jenis ular; disana tertulis bahwa anaconda adalah salahsatu jenis ular yang besar dan panjangnya bisa sampai beberapa meter; ada yang hampir sama dengan bis panjangnya.
Kemudian Fatih menginterupsi saya: ”Ayah, di Diego (maksudnya film anak-anak go Diego go!), anaconda itu pendek; Cuma sepanjang ini." Sambil kedua telapak tangannya didekatkan, memberikan isyarat pendek.
Saya lantas menjawab: “oh..begitu..ok deh.
Setelah itu saya teruskan membaca. Saya ulangi lagi kalimat tentang karakteristik anaconda tersebut.
lagi-lagi Fatih menginterupsi: “anaconda itu harus pendek Ayah; jadi kalau panjang, namanya Ibukonda, bukan anakonda.”

Sunday, March 4, 2007

Doa ayah untuk anak-anak di rumah

Ya Allah yang Maha Besar
Lindungilah kedua anakku dari segala mara bahaya
Berikanlah kekuatan kepada istriku untuk bisa menjaga dan mendidik mereka dengan baik
Pertahankanlah keutuhan rumahtangga kami sehingga kami bisa membesarkan mereka dengan baik dan benar sesuai tuntunan-Mu,
Berikanlah kepadaku kemudahan dan kekuatan untuk membesarkan dan mendidik mereka walaupun dari jauh

Kembangkanlah raga mereka
Kembangkanlah pemikiran mereka
Kembangkanlah jiwa-jiwa mereka
Kembangkanlah hati mereka

Berikanlah kepada mereka lautan kebahagiaan
Berikanlah kepada mereka rasa kasih-sayang terhadap sesama manusia dan makhluk-Mu yang lain
Berikanlah kepada mereka kesejukan ketika mereka panas
Berikanlah kepada mereka kemudahan ketika mereka menemui kesulitan

Dekatkanlah mereka dengan agama-Mu sehingga mereka tidak kehilangan arah
Dekatkanlah mereka dengan Cahaya-Mu sehingga mereka selalu terhindar dari kegelapan
Dekatkanlah mereka dengan Ilmu-Mu sehingga mereka tidak menjadi budak dunia
Dekatkanlah mereka dengan Iman-mu sehingga mereka terjaga dari tipudaya syaitan


Berikanlah kepada mereka kekuatan-Mu sehingga mereka tidak mudah tergoda oleh dunia

Mudah-mudahan mereka menjadi hamba-Mu yang dapat menyebarkan kebaikan di muka bumi ini

Sunday, February 18, 2007

Obrolan seorang ibu dengan anaknya..

Anak (A): "Mah…, kok ayah perginya lama?"
Ibu (I) : "Iya, ayah lagi kerja, di laut….. …."
A: "Lautnya jauh mah?"
I: "Iya jauh…"
A: "Lautnya dipindah aja ke deket rumah kita, supaya ayah perginya nggak lama….. "

A: "Mah…., kenapa ayah mesti ke laut?"
I: "Ayah harus cari uang nak….. untuk biaya kakak sekolah…".
A: "Kalau perlu uang, kita ngambil aja di ATM, nggak perlu ayah ambil di laut…."

Wednesday, February 7, 2007

Belajar menjadi Seorang Ayah……(2)

Komitmen
Saya baru saja berkomitmen untuk belajar menjadi seorang ayah yang baik dan benar. Belajar, berarti menjadi seorang murid, sekolah lagi. Tetapi kali ini berbeda dengan untaian sekolah yang dijalani dahulu. Belajar yang sekarang akan dijalani tidak akan pernah tamat (dan seharusnya dimulai sejak lama), cuma liang lahat yang akan menghentikan proses ini. Selain itu, sekarang saya harus benar-benar mandiri dan proaktif; tidak memiliki kelas, dan berharap mendapat tutor yang perfect. Tetapi siapa tutor atau guru tersebut? Sampai saat ini saya tidak tahu, tetapi ke depan saya yakin akan banyak guru dan pembimbing sejalan dengan perkembangan kemajuan studi saya ini.
Tapi ada satu hal yang paling menakutkan dari sekolah ini, yaitu subjeknya adalah kehidupan anak-anak saya dan yang menjadi bahan percobaan adalah kondisi psikologis mereka. Metodanya try and error. (ke depan akan dicoba di-minimalisir metoda ini)

Buka-buka
link di internet, mendapatkan masukan dari kompas, dan mendapatkan teori-teori yang lumayan bagus, mungkin bisa juga diterapkan nanti kalau sudah di rumah. “Dicoba untuk diterapkan” adalah kata yang lebih tepat.

Sebetulnya ada dua sudut pandang di masyarakat dalam membesarkan anak; yaitu berdasarkan sudut pandang Psikologi Perkembangan Anak, dan tidak ada teori sama-sekali. Yang pertama mengikuti text book kuliah-kuliah Psikologi, pegangan para psikolog selama mereka kuliah.
Yang kedua tidak mengikuti textbook, hanya bersandar pada situasi yang ada pada saat itu, mengikuti anjuran orang tua dahulu, dan lebih condong kepada tuntunan agama dalam membesarkan anak. Kedua metoda ini bukan untuk dipertentangkan, karena masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihannya sendiri.
Belum saya pikirkan apakah akan mengikuti anjuran para psikolog atau mengikuti insting sebagai orangtua saja. Yang pasti ini adalah proyek yang besar dan berdampak luas pada perkembangan kehidupan anak-anak saya di masa depan.

Kerangka Pemikiran
Saya coba rumuskan dahulu kerangka dari semua ini (brain storming heula). Kerangka pemikiran dari proses pembelajaran ini adalah:
1. Agar anak-anak tumbuh dengan optimal; fisik, mental, emosional, psikologis, semuanya berkembang dengan baik sesuai dengan pertumbuhan usianya dari hari ke hari;
2. Fokus dari semua ini adalah mereka, bukan saya, bukan pendapat dari orang lain, bukan kejadian di masa lalu, atau pendapat di masyarakat luas yang belum tentu benar.
3. Tidak ada anak yang dilahirkan dengan kemampuan mengendalikan diri dengan baik; Semua itu harus dicapai dengan proses latihan dan pembelajaran dengan benar. Jadi jangan ada keinginan agar anak berbuat sesuatu yang ‘benar’ at the first time. Mungkin boleh ‘salah’ dulu, baru dikoreksi, diberi tahu mana yang benar dan mana yang salah; disini proses yang paling penting.
4. Anak adalah titipan Ilahi. Masa kanak-anak adalah early life time bagi setiap manusia. Duapuluh tahun yang akan datang mereka akan menjadi manusia dewasa. Segala hal yang didapatkannya semasa balita akan menjadi landasan yang kuat bagi perkembangannya di masa yang akan datang. “Golden age” ini harus benar-benar dioptimalkan perkembangannya tetapi jangan sampai overload.

.............(bersambung)............